Kalau Anda wisatawan Muslim yang sedang merencanakan perjalanan ke Xi’an, Muslim Quarter adalah satu-satunya tempat di mana urusan makan jadi mudah, bukan proyek riset harian. Ini kawasan hunian Muslim Hui yang benar-benar hidup di tengah kota — bukan atraksi bertema — dan makanan yang dijual di dalamnya halal menurut norma komunitasnya: daging sapi, daging kambing, dan tanpa alkohol di jalan-jalan intinya. Di kawasan ini juga berdiri Masjid Agung Xi’an, tempat Anda bisa sholat di tengah hari yang penuh jadwal jalan-jalan.
Meski begitu, sebagian besar panduan tentang Muslim Quarter ditulis untuk turis yang datang demi tontonannya. Panduan ini ditulis untuk wisatawan yang perlu tahu tiga hal praktis: apa yang benar-benar halal, di mana dan kapan bisa sholat, dan bagaimana menyelipkan kawasan ini ke dalam itinerary Xi’an tanpa harus berdesakan.
Apa Itu Muslim Quarter?
Muslim Quarter (回民街, Huimin Jie — sering juga disebut Huifang) adalah gugusan jalan tepat di utara Drum Tower di pusat kota Xi’an. Keluarga-keluarga Muslim Hui sudah tinggal dan berdagang di sini selama berabad-abad; komunitasnya berakar pada pedagang Jalur Sutra yang menetap di ibu kota Dinasti Tang lebih dari seribu tahun lalu. Kini sekitar selusin gang — Beiyuanmen (jalan utamanya), Xiyangshi, Dapiyuan, dan Huajue Lane di antaranya — membentuk jaringan padat berisi kedai makanan, restoran, dan toko, dengan masjid-masjid yang masih aktif tersebar di seluruh kawasan.
Bagi pengunjung Muslim, sejarah itu punya arti yang sangat konkret: ini bukan jalan kuliner yang lalu menambahkan pilihan halal untuk turis. Ini kawasan hunian Muslim yang kemudian menjadi jalan kuliner. Kalau Anda hanya punya satu malam di Xi’an, habiskan di sini. Untuk melihat bagaimana kota ini masuk ke rute yang lebih panjang, lihat panduan destinasi Xi’an kami.
Lokasinya di Mana dan Bagaimana ke Sana

Kawasan ini berada di Distrik Lianhu, terjepit antara Bell Tower dan Drum Tower — tepat di pusat kota bertembok.
- Naik metro: Ambil Jalur 2 sampai stasiun Bell Tower (Zhonglou). Dari pintu keluar, Drum Tower sudah terlihat; lewati bangunan itu dan jalan Beiyuanmen langsung dimulai di belakangnya. Total sekitar 10 menit berjalan kaki.
- Dari stasiun kereta Xi’an North (tempat kereta cepat tiba): Jalur 2 langsung menuju Bell Tower, sekitar 40 menit dari pintu ke pintu.
- Jalan kaki: 5 menit dari Drum Tower, 10 menit dari Bell Tower.
Tidak ada gerbang dan tidak ada tiket masuk — jalanannya milik umum dan terbuka sepanjang waktu. Tiap kedai dan restoran punya jam bukanya sendiri, yang kami bahas di bawah.
Apakah Semua yang Ada di Muslim Quarter Benar-Benar Halal?
Jawaban singkatnya: di jalan-jalan inti kawasan ini, ya. Lingkungannya dijalankan keluarga-keluarga Muslim Hui, dan daging babi serta alkohol tidak ada di jalan kulinernya. Anda akan melihat daging sapi dan kambing di mana-mana, papan 清真 (halal) di muka toko, serta tukang daging dan toko roti yang melayani komunitas Muslim setempat sendiri — sinyal praktis paling kuat bahwa standarnya dijaga karena alasan agama, bukan alasan pemasaran.

Dua catatan jujur, karena kami merencanakan perjalanan untuk wisatawan Muslim dan terus-menerus ditanyai soal ini:
- Halal di sini berbasis komunitas, bukan berbasis sertifikat. China tidak punya sistem sertifikasi halal nasional seperti JAKIM di Malaysia atau MUI di Indonesia. Kepercayaan bertumpu pada kenyataan bahwa pedagangnya adalah Muslim Hui yang melayani komunitasnya sendiri. Bagi sebagian besar wisatawan, hal ini terasa meyakinkan begitu berada di tempatnya — Anda akan melihat warganya sholat di masjid-masjid kawasan itu. Kalau Anda memegang standar ketat yang hanya menerima sertifikat, ketahuilah sejak awal bahwa sertifikasi di atas kertas memang bukan cara kerjanya di mana pun di China.
- Kawasan ini ada batasnya. Satu atau dua blok di luar gang-gang intinya, Anda sudah kembali ke jalanan Xi’an biasa, di mana tidak ada yang boleh diasumsikan. Kebiasaan praktisnya: cari papan 清真 dan tulisan Arab di muka toko. Di dalam jalan-jalan inti hal ini nyaris selalu ada; di pinggirannya, tanda itu justru memberi tahu persis di mana kawasan ini berakhir.
Logika verifikasi yang sama kami pakai saat merencanakan makan di berbagai kota China untuk klien kami — di kota yang tidak punya kawasan Muslim, ini butuh kerja sungguhan, dan karena itulah kami memverifikasi lebih dulu setiap restoran di rute kami. Panduan wisata halal di China kami menjelaskan bagaimana perbedaannya dari kota ke kota.
Apa yang Layak Dimakan: Hidangan Khas dan Di Mana Mencarinya

Lupakan cara pikir daftar centang — Anda tidak mungkin mencicipi semuanya dalam sekali kunjungan. Inilah hidangan yang layak diprioritaskan, semuanya makanan halal standar di jalan-jalan intinya:
- Yangrou paomo (羊肉泡馍): Hidangan khas Xi’an — roti pipih yang Anda sobek sendiri sampai jadi remah, lalu direndam kuah kambing yang dimasak lama. Ini santapan untuk dinikmati sambil duduk, bukan jajanan jalanan. Carilah restoran yang sudah mapan di Beiyuanmen atau Dapiyuan, bukan jendela jajanan turis.
- Roujiamo (肉夹馍): Sering disebut burger China — cincangan daging sapi atau kambing yang dimasak semur lalu dijejalkan ke dalam roti pipih renyah. Di kawasan ini isinya daging sapi atau kambing; di tempat lain di China isian standarnya daging babi, jadi di sinilah tempat mencobanya.
- Mi biangbiang: Mi lebar seperti sabuk yang ditarik dengan tangan, disiram cabai dan bawang putih. Perhatikan saat adonannya dihempaskan ke meja — bunyi itulah asal namanya.
- Sate kambing bakar (烤串): Berbalur jintan, dibakar di atas arang tepat di depan Anda. Kedai yang paling ramai paling cepat berganti stok — ikut saja antrean warga lokal yang paling panjang.
- Liangpi (凉皮): Mi tepung beras dingin dengan saus wijen dan cabai. Makan siang terbaik di kawasan ini saat cuaca panas.
- Kue kesemek (柿子饼): Adonan goreng dari kesemek Lintong, diisi pasta manis. Kekhasan lokal yang tidak mudah Anda temukan di luar Shaanxi.
- Jinggao (镜糕): Kue beras kukus kecil bertusuk, ditaburi gula mawar — hidangan penutup klasik untuk disantap sambil berjalan di kawasan ini, berdampingan dengan jus delima segar di musim gugur.
Pola makan warga lokal yang layak ditiru: jalur utama Beiyuanmen adalah panggung pertunjukannya; gang-gang sampingnya — terutama Dapiyuan dan Xiyangshi — adalah tempat harga turun dan warga setempat benar-benar makan. Susuri jalan utamanya, lalu makan di gang sebelah. Untuk perencanaan makanan halal di kota-kota China lainnya, panduan makanan halal kami membahasnya satu per satu.
Sholat di Masjid Agung Xi’an

Masjid Agung di Huajue Lane adalah salah satu masjid tertua dan terbesar di China, didirikan pada 742 M dan dibangun sepenuhnya dalam gaya halaman China — paviliun dan taman, bukan kubah dan menara. Masjid ini sekaligus rumah ibadah yang aktif dan situs bersejarah, dan dua peran itu berjalan dengan aturan berbeda:
- Pengunjung Muslim diperbolehkan masuk gratis untuk sholat — sampaikan ke petugas gerbang bahwa Anda datang untuk sholat. Kelima waktu sholat dijalankan; masjid ini melayani komunitas Hui di sekitarnya, jadi Anda akan sholat berjamaah bersama warga setempat.
- Pengunjung non-Muslim perlu tiket berbayar dan boleh menyusuri halamannya, tapi tidak boleh masuk ke ruang sholat.
- Jam buka: kompleksnya buka pukul 08.00 dan tutup pada malam hari — berbagai sumber menyebut 20.00–21.00 tergantung musim. Kalau Anda mengincar waktu sholat tertentu, datanglah dengan jeda waktu, jangan mepet.
Pintu masuknya gampang terlewat: Huajue Lane adalah gang suvenir sempit yang bercabang dari jalan kuliner utama — ikuti papan penunjuk dari Beiyuanmen. Beberapa masjid kawasan yang lebih kecil juga beroperasi di dalam Muslim Quarter, jadi wisatawan Muslim di sini tidak pernah jauh dari tempat sholat — kelangkaan yang patut disyukuri; di banyak destinasi wisata China, sholat harus direncanakan di kamar hotel dan di dalam kendaraan. Dalam hal ini, Xi’an adalah kota wisata besar termudah di China.
Berpakaian sopan tetap berlaku, dan mintalah izin sebelum memotret orang yang sedang beribadah.
Waktu Terbaik Berkunjung: Jam Buka, Malam Hari, dan Ramadan
- Jam buka kedai: sebagian besar kedai makanan dan restoran buka dari menjelang siang (sekitar pukul 09.00–10.00) sampai kira-kira pukul 22.00. Pagi-pagi sekali suasananya sepi — bagus untuk foto, buruk untuk makan.
- Malam hari adalah pertunjukannya — lampu-lampu, asap panggangan, kerumunan penuh. Suasananya benar-benar hidup sekaligus benar-benar padat, apalagi pada akhir pekan dan hari libur nasional China. Kalau keramaian menguras tenaga Anda, datanglah untuk makan siang terlambat sekitar pukul 14.00: makanannya sama, orangnya separuh.
- Musim: kawasan ini buka sepanjang tahun. Malam-malam musim panas terasa gerah dan padat; musim gugur (September–November) adalah jendela paling nyaman, dan itu juga sejalan dengan musim terbaik untuk Xi’an secara keseluruhan.
- Ramadan: kawasan ini tidak berhenti beroperasi — ini jalan komersial aktif dengan lalu lintas turis yang padat — tapi para wisatawan melaporkan sebagian kedai milik keluarga memendekkan jam buka siangnya, dan masjid-masjidnya penuh saat maghrib dan tarawih. Berada di sini saat iftar, berbuka puasa di kawasan yang sudah melakukannya selama lebih dari seribu tahun, adalah pengalaman yang benar-benar istimewa kalau tanggal Anda kebetulan pas. Kalau Anda bepergian selama Ramadan dan mencemaskan logistik siang hari sebagai pengunjung yang berpuasa, hal seperti inilah yang kami perhitungkan saat menyusun rencana.
Menyelipkan Muslim Quarter ke dalam Perjalanan Xi’an Anda
Sebagian besar wisatawan mengalokasikan dua sampai tiga hari untuk Xi’an. Pola yang terbukti jalan:
- Hari Terracotta Army: situsnya berjarak lebih dari satu jam di timur kota dan menghabiskan hampir seharian termasuk perjalanan. Anda akan kembali ke kota menjelang sore — malam itulah malam Muslim Quarter yang paling alami: sholat maghrib di Masjid Agung, lalu menyusuri Beiyuanmen sambil makan.
- Hari tembok kota: tembok kota kuno, Bell Tower, dan Drum Tower semuanya berjarak jalan kaki dari kawasan ini. Bersepeda di atas tembok pada sore hari, lalu masuk ke kawasan ini saat lampu-lampu mulai menyala.
- Waktu yang dibutuhkan: 2–3 jam sudah cukup untuk jalan kuliner dan Masjid Agung tanpa terburu-buru. Wisatawan yang datang khusus demi kuliner dengan senang hati menghabiskan satu malam penuh.
Satu catatan praktis untuk koordinator rombongan: gang-gangnya sempit dan restoran yang bagus berukuran kecil. Untuk rombongan sepuluh orang atau lebih, satu meja makan malam bersama di kawasan ini perlu diatur dari jauh hari, atau rombongannya dipecah ke beberapa meja kecil — ini detail koordinasi yang kami tangani saat menyusun itinerary rombongan, bersama dengan menjaga waktu sholat tetap terkunci di jadwal sementara hal lain menyesuaikan.
Xi’an juga titik awal klasik rute Jalur Sutra — banyak wisatawan Muslim kami memasangkannya dengan Kashgar untuk perjalanan yang menyusuri jalan yang sama dengan yang dulu dilalui para pedagang pendiri kawasan ini. Kalau Anda ingin dibantu menyusun Muslim Quarter, Masjid Agung, dan waktu sholat ke dalam rute yang benar-benar mengalir, konsultasi dengan kami lewat WhatsApp (+86-19118612939) sambil menyebutkan tanggal Anda — menyusun hal seperti ini memang pekerjaan kami sehari-hari.
FAQ
Apakah Xi’an kota Muslim?
Bukan. Xi’an adalah kota dengan mayoritas etnis Han, tapi memiliki salah satu komunitas Muslim perkotaan tertua di China. Kawasan Hui di sekitar Masjid Agung sudah ada lebih dari seribu tahun, dan itulah sebabnya makanan halal serta masjid yang aktif lebih mudah ditemukan di sini dibanding hampir semua kota wisata besar lain di China.
Apakah makanan di Muslim Quarter halal?
Di jalan-jalan intinya, ya — pedagangnya Muslim Hui dan standar kawasan itu tidak memberi tempat pada daging babi maupun alkohol. Perlu dicatat bahwa halal di China berbasis komunitas, bukan berbasis sertifikat, dan standar itu berlaku untuk gang-gang inti kawasan ini, bukan untuk jalanan biasa di pinggirannya. Cari papan 清真.
Muslim Quarter disebut apa dalam bahasa Mandarin?
回民街 (Huimin Jie), dan warga setempat sering menyebut kawasan yang lebih luas sebagai 回坊 (Huifang). Sopir taksi dan aplikasi peta mengenali keduanya, begitu juga “Beiyuanmen” untuk jalan utamanya.
Berapa jam buka Muslim Quarter?
Jalanannya milik umum dan selalu terbuka. Kedai makanan umumnya buka dari sekitar pukul 09.00–10.00 sampai kira-kira pukul 22.00, dengan malam hari sebagai jam tersibuk.
Bisakah non-Muslim mengunjungi Masjid Agung?
Bisa, dengan tiket berbayar, tapi hanya bagian halamannya — ruang sholat dikhususkan untuk yang beribadah.
Butuh waktu berapa lama?
2–3 jam untuk jalan kuliner ditambah Masjid Agung. Wisatawan yang datang khusus demi kuliner sebaiknya menyiapkan satu malam penuh.


