Tanyakan apakah sebuah kota di China ramah Muslim, dan jawaban jujurnya biasanya penuh syarat: distrik yang mana, restoran yang mana, seberapa jauh masjid terdekat. Xi’an adalah satu-satunya kota wisata besar yang jawabannya cukup satu kata: ya. Komunitas Muslim Hui sudah tinggal di pusat kota bertembok ini selama lebih dari 1.300 tahun — artinya makanan halal dan masjid yang aktif di sini bukan layanan yang disiapkan untuk turis, melainkan kehidupan kampungnya sendiri. Ada satu hal yang perlu diperhatikan, dan itulah sebabnya Xi’an pun tetap butuh rencana: keramahan ini berlaku di pusat kota, sementara objek wisata terbesar Xi’an, Terracotta Army, berada satu jam di luarnya. Berikut penilaian lengkapnya.
Apakah Xi’an Kota Muslim? Bukan — dan Kenapa Pertanyaannya Keliru
Mari jawab dulu pertanyaan yang benar-benar orang ketik. Bukan, Xi’an bukan kota Muslim — ini kota berpenduduk lebih dari sepuluh juta jiwa dengan mayoritas suku Han. Tetapi di sini ada salah satu komunitas Muslim perkotaan tertua di China: kampung Hui di belakang Drum Tower, biasa disebut Muslim Quarter atau Huifang, yang bermula dari para pedagang Jalur Sutra yang menetap di ibu kota Dinasti Tang. Komunitas ini tidak pernah pergi. Gang-gangnya, tukang dagingnya, toko rotinya, dan masjid-masjidnya terus beroperasi tepat di titik pusat geografis kota.
Bagi wisatawan, sejarah itu terasa nyata dengan cara yang tidak bisa diwakili statistik: di kebanyakan kota China, makanan halal harus dicari; di pusat Xi’an, halal adalah standarnya. Makanan yang membuat kota ini terkenal — yangrou paomo, roujiamo daging sapi, sate kambing bumbu jintan — memang lahir dari dapur orang Hui. Anda bukan sedang mencari versi halal dari masakan lokal; masakan lokalnya memang halal sejak awal. Panduan Muslim Quarter kami membahas kampung ini gang demi gang.
Makan Halal: Satu-satunya Kota yang Tanpa Usaha — di Dalam Tembok Kota
Di dalam kota bertembok, urusan makan adalah yang termudah di seluruh China. Jalan-jalan inti Muslim Quarter bebas babi dan bebas alkohol — pedagangnya adalah Muslim Hui yang melayani komunitasnya sendiri, dengan tanda 清真 (qingzhen) di hampir setiap etalase. Dan berbeda dari kota-kota yang pilihan halalnya cuma warung mi, Xi’an punya restoran legendaris berusia seabad: Lao Sun Jia menyajikan paomo sejak 1898, Tongshengxiang sejak 1920 — restoran sungguhan tempat keluarga atau satu rombongan tur bisa makan malam dengan layak, bukan sekadar semangkuk mi cepat.
Dua hal tetap perlu disampaikan jujur. Pertama, halal di China berbasis komunitas, bukan sertifikat — tidak ada sistem sertifikasi nasional, di Xi’an maupun di mana pun. Di sini standar itu justru paling menenangkan, karena Anda bisa melihat sendiri komunitasnya sholat di masjid mereka; tetapi wisatawan yang berpegang ketat hanya pada sertifikat sebaiknya memahami cara kerjanya sebelum berangkat. Kedua, begitu melangkah keluar dari Quarter, aturan China pada umumnya berlaku lagi: roujiamo yang berisi daging sapi di dalam Quarter, di seluruh penjuru kota lainnya secara default berisi babi — dengan nama yang sama persis. Kebiasaan yang menjaga Anda tetap halal: periksa tanda 清真 di etalase sebelum membaca menu — panduan makanan halal Xi’an kami membahas aturan itu, daftar hidangan, dan daftar restorannya secara lengkap.
Sholat: Masjid Agung Menjadi Jangkar Seluruh Perjalanan

Kebanyakan kota di China menuntut wisatawan Muslim menyelipkan sholat di sela perjalanan. Xi’an membalikkannya: Anda bisa menyusun satu hari perjalanan justru di sekitar sholat. Masjid Agung di Huajue Lane — menurut penanggalan tradisional berdiri sejak 742 dan termasuk masjid pramodern terbesar yang masih berdiri di China — adalah masjid aktif dengan sholat lima waktu, dan pengunjung Muslim sholat di sana gratis; sampaikan kepada petugas gerbang bahwa Anda datang untuk sholat. Letaknya di dalam Muslim Quarter, beberapa menit berjalan kaki dari jalan-jalan kuliner, sehingga Dzuhur di masjid langsung berlanjut ke makan siang tanpa memutar sama sekali.
Kalau tanggal perjalanan Anda mencakup hari Jumat, jadikan itu jangkar sepanjang hari: sholat Jumat di Masjid Agung, lalu menikmati Quarter dengan ritme sore hari Jumat — bagi banyak klien kami, inilah momen paling berkesan dari seluruh perjalanan mereka di China. Beberapa masjid kampung yang lebih kecil juga beroperasi di gang-gang sekitarnya, jadi di pusat kota Anda tidak pernah jauh dari tempat sholat. Pada hari-hari ketika rute meninggalkan pusat kota — dan hari seperti itu pasti ada — sholat berjalan seperti di seluruh China: di hotel, atau di titik yang tenang dan bersih di samping kendaraan. Posisi Xi’an di antara kota-kota China dalam hal ini, dan seperti apa sholat di tempat lain, kami bahas di panduan masjid di China.
Catatannya: Keramahan Xi’an Berhenti di Tembok Kota

Sekarang bagian yang justru menjebak karena pusat kotanya terlalu mudah. Objek-objek andalan Xi’an tidak berada di pusat. Terracotta Army ada di Distrik Lintong, sekitar satu jam berkendara ke arah timur laut, dan kawasan situsnya — dibangun untuk volume bus wisata — tidak punya restoran halal yang sudah kami verifikasi dan berani kami rekomendasikan ke klien. Gunung Hua, day trip besar lainnya, lebih jauh lagi. Wisatawan mengira kota yang urusannya halalnya semudah ini akan tetap mudah ke mana pun itinerary pergi — dan asumsi itulah yang membuat kota dengan kuliner terbaik di China bisa menghasilkan sore hari dengan perut kosong.
Solusinya adalah urutan, bukan pengorbanan. Pada hari Terracotta versi kami, polanya baku: sarapan yang benar sebelum berangkat, camilan kemasan dan air di tas, tiga sampai empat jam di lokasi, lalu kembali ke kota untuk makan siang telat atau makan malam awal di restoran halal terverifikasi — rute pengemudi berakhir di meja makan, bukan di lobi hotel. Berangkat pagi, Anda sudah makan besar sebelum jam tiga sore; berangkat siang, rute yang sama mengantar Anda ke Quarter tepat saat lampu-lampunya menyala. Jika rombongan membawa orang tua, hari ini kami perlambat lagi — area pit menuntut banyak berjalan kaki, jadi kami selipkan jeda duduk dan tidak pernah menumpuk Gunung Hua di hari yang sama. Urutannya benar, hari paling melelahkan di Xi’an berakhir menyenangkan; urutannya lewat, Anda terpaksa memilih antara lapar atau berjudi di deretan restoran turis.
Menginap di Mana: Keputusan Hotel Paling Sederhana di China
Di kebanyakan kota China, kami sungguh-sungguh menghitung penempatan hotel, karena menginap di distrik yang salah diam-diam membebani setiap makan malam halal. Xi’an memampatkan keputusan itu menjadi satu kalimat: menginaplah di dalam tembok kota, dekat Bell Tower dan Drum Tower. Dari sana Muslim Quarter, Masjid Agung, Tembok Kota, dan metro semuanya terjangkau jalan kaki; sarapan beres lewat lapak-lapak pagi di Quarter alih-alih bufet hotel yang memang tidak pernah halal; dan Stasiun kereta cepat Xi’an North terhubung langsung Metro Jalur 2 (ke bandara naik mobil atau metro dengan satu kali transit). Pusat kotanya pun datar dan ringkas — keunggulan nyata bila rombongan membawa kakek-nenek. Pesan lokasi itu, dan bagian pusat kota dari perjalanan Anda berjalan dengan sendirinya.
Untuk Siapa Xi’an Cocok — dan Bagaimana Menempatkannya di Rute China
Kalau yang Anda cari dari China adalah keterhanyutan dalam warisan Muslimnya — jalanan yang tanda halalnya lebih banyak dari apa pun, masjid yang lebih tua dari kebanyakan negara, budaya kuliner yang sejak awal memang milik Anda — maka Xi’an bukan sekadar ramah, ia adalah inti perjalanannya. Kota inilah yang kami maksud saat kami berkata kepada klien bahwa keramahan China terhadap Muslim tergantung Anda berdiri di mana; gambaran lengkap tingkat negara ada di Apakah China ramah Muslim?
Dua sampai tiga hari sudah memadai: satu hari untuk Terracotta Army, satu hari untuk kota bertembok — tembok kota, menara, Quarter, Masjid Agung — dan hari ketiga untuk Gunung Hua atau malam kuliner kedua yang lebih santai. Untuk rute lebih panjang, Xi’an berpasangan alami dengan Beijing atau Chengdu lewat kereta cepat, dan bagi yang tertarik kisah Jalur Sutra, inilah ujung timur klasik dari jalan yang menuju Kashgar. Kalau rombongan Anda seluruhnya perempuan — perjalanan para sahabat, rute ibu dan anak perempuan — sampaikan sejak awal: untuk rombongan khusus perempuan kami aturkan pemandu perempuan, dan kami sudah pernah mewujudkannya. Soal izin masuk: pemegang paspor Indonesia masih memerlukan visa untuk kunjungan biasa (tersedia skema bebas visa transit 240 jam dengan syarat rute tertentu). Mulailah dari halaman destinasi Xi’an, atau sampaikan tanggal perjalanan Anda via WhatsApp dan kami sketsakan bagaimana Xi’an masuk ke rute Anda, lengkap dengan jadwal makan dan waktu sholat.
Membawa Rombongan 10 Orang atau Lebih?
Untuk rombongan Muslim, kapasitas duduk restoran Xi’an nyaris tak tertandingi di China — tetapi tidak bisa dadakan. Warung-warung kecil terkenal di Quarter memang benar-benar kecil; rombongan lima belas orang yang datang begitu saja pukul 19.00 adalah rencana yang paling cepat gagal. Dua restoran paomo legendaris itulah tempat yang sungguh bisa mendudukkan satu rombongan bersama, dan cara kerjanya: sepakati menu dan meja dengan restoran sebelum harinya, lalu biarkan malam jajanan kaki lima berjalan sebagai waktu bebas dengan titik kumpul. Koordinasi di muka itu — restoran, menu, penjadwalan terhadap rute hari itu — adalah bagian yang kami tangani untuk para koordinator rombongan, dan biaya per orang turun seiring rombongan membesar. Kirimkan jumlah rombongan dan tanggal Anda dan kami kembalikan rencana Xi’an dengan jadwal makan rombongan dan waktu sholat yang sudah terkunci.
FAQ
Apakah Xi’an aman untuk wisatawan Muslim?
Ya — bagi wisatawan Muslim, Xi’an termasuk kota paling nyaman di China, karena ada kampung Muslim yang hidup tepat di pusatnya dan tampil sebagai Muslim adalah hal biasa di sini. Dua hal yang tetap perlu diantisipasi seperti di mana pun di China: asap rokok di tempat umum, dan alkohol yang disajikan di restoran biasa di luar Quarter. Keduanya tidak ditujukan kepada Anda, dan kami merancang rute serta hotel dengan mempertimbangkan keduanya.
Bolehkah memakai hijab di Xi’an?
Boleh, di mana pun dan tanpa batasan — di Quarter Anda justru membaur begitu saja. Jawaban lengkap kami untuk seluruh China, termasuk pemeriksaan identitas dan foto visa, ada di Bolehkah memakai hijab di China?
Apakah ada area sholat perempuan di Masjid Agung?
Fasilitas untuk perempuan berbeda-beda antarmasjid di China, dan untuk Masjid Agung kami belum menemukan keterangan resmi yang bisa dijadikan pegangan — karena itu, untuk keluarga dan rombongan perempuan, ini salah satu hal yang kami pastikan lewat telepon sebelum harinya, bersama jadwal sholat. Kalau bepergian mandiri, tanyakan di kantor masjid saat tiba; pertanyaan ini rutin mereka layani.
Apakah jajanan kaki lima di Muslim Quarter benar-benar halal?
Di jalan-jalan intinya, ya — pedagangnya Muslim Hui dan norma kampung ini meniadakan babi serta alkohol, meski standarnya berupa kepercayaan komunitas, bukan sertifikasi tertulis. Panduan Muslim Quarter membahas gang mana yang benar-benar jadi tempat makan warga lokal.
Berapa banyak Muslim yang tinggal di Xi’an?
Perkiraannya beragam, dan kami tidak akan berpura-pura punya angka pasti. Fakta yang berguna bagi pengunjung: komunitas Hui di sini berjumlah puluhan ribu jiwa dan termasuk komunitas Muslim perkotaan tertua di China, terpusat di dalam dan sekitar Muslim Quarter, dengan masjid, sekolah, dan tukang daging yang dipakai sehari-hari.
Apakah Xi’an cocok dikunjungi saat Ramadan?
Lebih cocok daripada hampir semua tempat lain di China — Anda berpuasa di kampung yang ikut berpuasa bersama Anda, dan berbuka di sana adalah puncak pengalaman, bukan kompromi. Selama bulan itu ritme Quarter bergeser ke sore-malam, jadi pastikan dulu jam buka siang restoran untuk anggota keluarga yang tidak berpuasa sebelum menyusun rencana makan siang di sekitarnya.


